
Unesco Global Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu
Oleh:
Bramantyo Tri Asmoro, S.Hub.Int.,M.PSDM
Kaprodi Ilmu Pemerintahan
Pada pertengahan bulan September, penulis berkesempatan untuk mengunjungi salah satu bagian dari jaringan Geopark Unesco yaitu kawasan Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu yang terletak di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kunjungan tersebut dilakukan penulis yang sedang mengikuti program magang dosen dari Kemenristekdikti dan ditempatkan di Universitas Padjajaran selama 4 bulan, agenda kunjungan ke kawasan Geopark Ciletuh merupakan salah satu kegiatan yang diprogramkan oleh tim pengelola magang di Unpad.
Global Geopark atau taman bumi Ciletuh-Pelabuhan Ratu resmi ditetapkan sebagai salah satu Unesco Global Geopark pada 17 April 2018, dalam sidang Executive Board UNESCO ke 204, Programme and External Relations Commissions di Paris, France. Proses penetapan hanya berjarak 3 tahun setelah menjadi kawasan geopark nasional dan prosesnya termasuk yang paling cepat di Indonesia. Kawasan Geopark Ciletuh ditetapkan menjadi kawasan Geopark Nasional sejak 2015 dengan luas area 45.820 ha mencakup 15 desa dan 2 kecamatan. Dalam perkembangannya, kawasan Geopark Ciletuh meluas hingga mencapai wilayah Cisolok dan Palabuhanratu dengan peningkatan luas area menjadi 126.100 ha dan mencakup 74 Desa di 8 Kecamatan.
Secara aspek geologi, Ciletuh merupakan satu-satunya wilayah yang memiliki singkapan batuan tertua di Jawa Barat, berupa batuan langka ofiolit, metamorfik dan batuan “melange”. Batuan ini merupakan produk hasil tumbukan antar lempeng benua Eurasia dengan Samudera Hindia (Indo-Australian) sekitar 60 juta tahun yang lalu. Kawasan Ciletuh juga memiliki batuan lanskap berbentuk setengah lingkaran menyerupai tapal kuda terbuka. Batuan tebing ini membentang dengan diameter bentangan sekitar 15 kilometer. Bentangan ini banyak disebut sebagai amphiteater (teater alam) terbuka dengan banyak air terjun yang jatuh di sela tebing.
Dari segi keanekaragaman hayati, Ciletuh memiliki ragam kawasan konservasi alam, mulai dari nature reserve, wildlife reserve, forest conservation, taman nasional dan kawasan konservasi penyu hijau. Kawasan Ciletuh juga memiliki berbagai budidaya tambak, perkebunan, pertanian dan hutan produksi. Sedangkan dari segi budaya, Ciletuh menyimpan kearifan lokal masyarakat Sunda yang masih terjaga hingga kini. Mulai dari tinggalan mitos dan folklor, hingga berbagai tinggalan situs Megalitikum, tinggalan kolonial, serta Kampung Budaya Kasepuhan yang masih memegang kuat tradisi Sunda.
Berikut beberapa destinasi wisata yang dikunjungi penulis
Sunset di Bukit Panenjoan
Pantai Palangpang
Curug Cimarinjung
Konservasi Penyu Pantai Pangumbahan







