Sudah menjadi tradisi setiap tahun, UNIRA Malang selenggarakan Rihlah dan Ngaji Bareng bersama tokoh Nahdlatul ulama di sekitar Jawa Timur. Ngaji bareng ini merupakan bagian dari penguatan terhadap nilai-nilai keislaman ahlusunah wal jamaah. Visi khayra ummah dalam perspektif UNIRA Malang meyakini bahwa khayra ummah harus diperjuangkan dengan mendasarkan diri pada pemahaman keislaman yang berpegang pada prinsip tasamuh, tawazun, I’tidal. Dimana ketiganya merupakan nilai yang menjadi pokok pemahaman keislaman berhaluan ahlusunah wal jamaah.

Rihlah Ilmiah dan Ngaji Bareng tahun ini dilaksanakan pada 28 September 2024 dan diikuti 505 peserta. Peserta rihlah dan ngaji bareng terdiri mahasiswa baru, dosen, tendik dan himpunan mahasiswa.

Sebelum pemberangkatan rombongan rihlah, Rektor UNIRA Malang,  KH. Imron Rosyadi Hamid, SE., M.Si menyampaikan apresiasinya kepada tim panitia yang menyelenggarakan rihlah dan ngaji bareng tahun ini.  Beliau menyatakan bahwa UNIRA merupakan perguruan tinggi yang berada di naungan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU). Sudah sepatutnya UNIRA mengenalkan civitas academicanya tentang Nahdlatul ulama. Pengenalan itu tidak hanya tentang sejarah, kiprah tokoh semata juga di dalamnya adalah pandangan keagamaan yang dijadikan dasar perilaku peribadatannya.

Sementara itu Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Islam Raden Rahmat, Dr. KH. Mohammad Hanief, M.Pd.I. dalam sambutannya menyampaikan bahwa rihlah ini bukan hanya sekedar menapaki sejarah tetapi juga mencoba mengambil pelajaran dari sejarah yang telah lalu. Salah satunya adalah bahwa dibutuhkannya kesabaran, keteguhan dan keistiqomahan untuk membangun peradaban. Termasuk di  dalamnya bahwa UNIRA juga didirikan oleh para tokoh Nahdlatul ulama yang memiliki jiwa kesabaran dan keikhlasan. Dalam kesempatan itu pula ketua yayasan mengajak peserta untuk melantunkan sholawat busyra sebelum perjalanan dilakukan.

Sebelum perjalanan rihlah dan ngaji bareng, sepekan sebelumnya, UNIRA telah melakukan ziarah ke makam beberapa pendiri kampus ini. Dua diantaranya adalah KH. Mahmud Zubaidi, M.A., Dan KH. Moh. Said Ketapang. Pekan berikutnya adalah rihlah dan ngaji bareng di beberapa lokasi. Lokasi yang menjadi tujuan rihlah adalah PP. Tebuireng Jombang, Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Suramadu, Makam Syaikhona Kholil Bangkalan dan yang terakhir adalah kompleks makam sunan Ampel di Surabaya.

Ngaji Bareng bersama Kyai Ma’ruf Khozin yang sedianya diselenggarakan di kompleks pesantren Raudlatul Ulum 1 Suramadu, dipindahkan ke kompleks Sentra Industri  Kecil dan Menengah Bangkalan. Pemindahan ini dilakukan dengan pertimbangan agar seluruh peserta rihlah dan ngaji bareng dapat tertampung dengan baik. Pada kesempatan tersebut  Kyai Ma’ruf  Khozin menyampaikan tentang pandangan keagamaan jamiyah nahdlatul ulama.

“ Para mahasiswa jangan pernah ragu untuk melakukan amaliyah yang sudah diajarkan secara turun-temurun oleh orang tua, guru ngaji maupun para kyai pesantren maupun kyai kampung. Yakinlah, bahwa seluruh amaliyah itu memiliki dasar hukum, hujjah yang begitu kuat dan mengikuti para shalihin yang bersumber pada ajaran rasulullah Muhammad SAW.” Begitu papar beliau.

Sebelum balik ke malang perjalanan rihlah dilanjutkan untuk berziarah ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan. Selain sebagai ulama besar di zamannya, Syaikhona Kholil juga merupakan guru KH. Hasyim Asy’ari Rois Akbar Nahdlatul Ulama. Dalam banyak referensi mbah Kholil disebut memberikan tongkat dan tasbih kepada KH. Hasyim Asy’ari melalui Kyai As’ad Syamsul Arifin Situbondo sebagai simbol restu beliau dalam pendirian nahdlatul ulama. (Hum/elk24)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *