UNIRA Malang – Bertema Penguatan Ekosistem Desa Wisata Berdampak dan Berkelanjutan, Kuliah Kerja Nyata – Tematik (KKN-T) Unira Malang periode Gasal 2025/2026  kembali digelar. Kemarin, Senin (12/01/2026) tidak kurang dari 200 peserta KKN-T diberangkatakan menuju 15 titik lokasi yang menjadi fokus kegiatan dan kegiatan akan berlangsung selama 40 hari. Desa-desa tujuan sendiri merupakan baagian dari desa di wilayah Kabupapaten Malang yang sedang mengembangkan potensi wisata di lingkungan desa.

   

Selain mahasiswa peserta KKN-T, upacara pemberangkatan  dihadiri oleh Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Islam Raden Rahmat, Rektor dan Wakil Rektor, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Tidak ketinggalan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ( Disparbud) Kabupaten Malang turut hadir sekaligus melepas secara langsung keberangkatan peserta.

Abdillah, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unira  selaku penanggung jawab kegiatan KKN-T menyampaikan bahwa pemilihan tema pengembangan desa wisata bukanlah tanpa alasan. Menurutnya desa wisata bisa menjadi salah satu sarana yang dapat menjadi daya dorong terjadainya perputaran ekonomi desa. Perputaran ekonomi desa akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan  warga desa.

“KKN-Tematik ini dirancang berbasis hasil kajian akademik dan kebutuhan riil desa wisata. Fokus program meliputi pemetaan potensi desa, penguatan SDM pariwisata lokal, penguatan kelembagaan, serta strategi promosi dan pemasaran digital desa wisata,” ujar Abe sapaan akrabnya.

Dalam sambutannya Rektor Unira Malang, KH. Imron Rosyadi, SE., MSi., Ph.D., menegaskan bahwa tema KKN-T tahun ini dirancang untuk mendorong kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan desa wisata. Menurutnya, desa wisata tidak hanya dipandang sebagai destinasi, tetapi sebagai ekosistem yang melibatkan masyarakat, budaya, lingkungan, dan tata kelola yang berkelanjutan.

“Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjalankan program sebagai rutinitas semata, tetapi mampu menjadi bagian dari solusi. Jaga nama baik kampus dan hadirkan dampak positif bagi masyarakat selama proses live-in di desa,” pesan Gus IRH, sapaan akrabnya.

Sementara itu,  Drs. Firmando Hasiholan Matondang, M.M, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) menilai keterlibatan kampus sangat strategis dalam pendampingan SDM dan kelembagaan desa wisata, seiring upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan aksesibilitas, atraksi, dan amenitas pariwisata.

“Membangun dan mengembangakan desa wisata itu bukan pekerjaan instant, tidak bisa 1-2 bulan, 1-2 tahun, tapi puluhan tahun. Yang bangun bukan hanya sarana dan prasarana, tetapi juga membangun visi dan kesadaran bersama untuk menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari identifikasi potensi, menyiapkan sumber daya  termasuk komunitas masyarakat yang akan menjadi bagian dari pelaku perencana, pembangun, pengembang serta menjalankan aktifitas yang “sadar wisata”. ujar Mando.

   

Menurutnya, kegiatan KKN-T ini dapat memfokuskan pada membangun kesadaran serta pengembangan perilaku masyarakat yang mendorong terbentuknya perilaku sadar wisata. Salah satunya adalah  melalui Pendidikan maupun pengembangan keterampilan masyarakat desa, baik dalam aspek budaya, seni maupun sosialnya. Dan tak kalah penting adalah pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dan berpijak pada kearifan lokal yang ada. Kearifan lokal sendiri dapat menjadi bagian dari sebuah objek dari desa wisata.

Acara pelepasan peserta ini ditandai dengan penyematan jaket oleh Kepala Disparbud dan Rektor kepada peserta serta DPL yang diiringi dengan pemukulan kentongan bambu. Kentongan merupakan sebuah alat dan menjadi bagian sarana komunikasi bagi masyarakat desa. Abe menambahkan pemukulan kentongan bambu juga menajdi simbol dari semangat pengabdian untuk tetap memegang teguh tradisi, namun juga menatap dinamika modernitas pada sisi lainnya. (hum26/abe-elk).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *