
Malang – Program Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang menggelar kuliah umum perdana yang bertajuk Seminar Internasional. Seminar internasional yang dikemas dalam via daring ini merupakan rangkaian dari kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di program pascasarjana yang dilaksanakan pada awal September yang lalu sedangkan seminar ini diselenggarakan pada Sabtu, 5 Oktober 2024.
Tema yang diangkat dalam seminar internasional kali ini adalah Reconstruction of Islamic Religion Education Subject in School, Madrasa and University: Learning From Malaysia & Indonesia Experiences. Pemilihan tema ini juga dalam konteks kedua negara yakni Indonesia dan Malaysia memiliki latar belakang budaya (melayu), kondisi geografis dan demografis yang relatif sama. Harapannya, terdapat banyak hal yang dapat didiseminasikan dalam pengelolaan lembaga pendidikan di kedua negara.

Kegiatan yang diikuti lebih dari 70 peserta ini , dibuka oleh Rektor Universitas Islam Raden Rahmat Malang, KH. Imron Rosyadi Hamid, S.E., M.Si., Ph.D. (Cand). Dalam sambutannya beliau menyampikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Team program pascasarjana. Ia menyebut, bahwa acara-acara seperti ini harus sering dilakukan sebagai bentuk usaha universitas untuk memasuki dunia pemikiran global yang kedepannya, UNIRA Malang dapat menjadi salah satu kontributor dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Dalam kegiatan seminar internasional ini adalah Prof. Dr. Kamaruzaman bin Yusoff dari Universiti Islam Melaka Malaysia dan Prof. Dr. Imam Suprayogo dari Indonesia. Kedua tokoh pendidikan terkemuka tersebut begitu antusias dalam berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada peserta seminar.

Sebagai narasumber pertama, Prof. Dr. Kamaruzaman menyampaikan perspektif pendidikan yang mengacu pada sejarah pendidikan islam di Andalusia. Pendidikan islam di Andalusia ini sudah tumbuh dan berkembang pesat sejak abad ke-3 Hijriyah. Mengacu pada periode tersebut, pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan mengajar tentang sebuah pengetahuan (transfer of knowledge) termasuk di dalamnya adalah mendidik (membentuk etik dan perilaku).
Beliau juga menyampaikan tantangan pendidikan islam di Malaysia saat ini. “Salah satu problem terbesar saat ini adalah orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak secara penuh kepada sekolah. Sementara itu, setiap hari anak masih berinteraksi dengan orang tua yang tentunya dijadikan sebagai role of model perilaku dan sikap dari anak didik. Karenanya diperlukan kolaborasi antara pihak sekolah dan wali siswa dalam membangun karakter islami pada peserta didik”. Jelasnya.
Sementara itu, Prof. Imam Suprayogo menyampaikan pandangannya terkait dengan pendidikan islam adalah tidak dikenalnya sistem pendidikan ruhani dalam model dan kurikulum pendidikan islam. Oleh karenanya ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi stakeholder pendidikan islam untuk merumuskan kembali tentang kurikulum pendidikan islam. Salah satu yang disampaikan beliau terkait hal ini adalah perlu dimasukkannya kurikulum pendidikan ruhani. Salah satunya adalah melalui pembersihan hati (tazkiyatun nafs).
“salah satu cara upaya dalam melakukan pendidikan ruhani adalah dengan mengajarkan ritual sholat yang melibatkan kehadiran hati (khusu’). Sholat yang tidak menghadirkan kesadaran tidak akan berdampak pada tumbuhnya perilaku positif dari yang menjalankan sholat”. Papar beliau.
Acara diakhiri dengan presentasi bagian akademik program pascasarjana UNIRA Malang. Presentasi ini terkait ketentuan akademik yang harus diikuti dan dijadikan pedoman mahasiswa pascasarjana dalam menempuh studinya untuk beberapa waktu yang akan datang. (Hum/elk24)